Harmony In Diversity
Harmony in Diversity sering dikaitkan dengan semboyan Bhineka Tunggal IKa yang memiliki arti walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Harmony atau yang akrab dengan kata keselarasan adalah keserasian dalam kehidupan masyarakat. Harmony in Diversity dapat diartikan sebagai keserasian dalam kehidupan masyarakat yang tetap tumbuh seiring dengan banyaknya perbedaan dalam masyarakat tersebut.
Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia begitu majemuk dan beragam. Hal inilah yang membuat banyaknya perbedaan di dalamnya. Ada beberapa unsur pembentuk Harmony in Diversity diantaranya kebudayaan, yang di dalamnya terdapat beberapa aspek yaitu suku, bahasa, agama, dan kepercayaan, serta kesenian. Terkadang apek-aspek inilah yang dapat memicu terjadinya konflik karena banyak dan beragamnya kebudayaan di Indonesia, tetapi dengan adanya semboyan Bhineka Tunggal Ika, perbedaan suku, bahasa, agama, dan kesenian dapat disatu padukan membentuk keselarasan, sehingga Harmony in Diversity dapat berjalan dengan baik.
Beberapa faktor yang memicu terjadinya perbedaan antara lain masalah ilmu pengetahuan, demi mempertahankan hidup dan mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam hidup, banyak orang mempelajari berbagai kebiasaan alam. Bila sampai terjadi perbedaan, mereka dapat menyelesaikannya dengan bukti-bukti yang ada dalam alam ini, faktor yang kedua, masalah ideologi, dengan mempelajari dirinya dan orang lain dalam kebersamaan hidup, banyak orang memunculkan berbagai ideologi yang diharapkan dapat bermanfaat bagi keselarasan. Perbedaan ideologi dapat diselesaikan melalui “bukti manfaat” yaitu bukti dari keberhasilan atau kegagalan manfaat dari sebuah ideologi, walaupun untuk pembuktian itu dibutuhkan waktu cukup lama untuk menanti hasilnya. Dan yang terakhir masalah agama/kepercayaan, meyakini bahwa seisi alam ini ada yang menciptakannya, wajar bila muncul berbagai agama dan kepercayaan yang memberitakan mengenai “penciptaan Nya dan ajaran Nya”.
Setelah menjelaskan unsur, ternyata Harmony in Diversity tidak hanya bisa dibentuk oleh unsur-unsur kebudayaan, melainkan juga ditunjang oleh sikap-sikap tiap individu, karena tanpa kepribadian yang baik, tidak akan ada kata harmony. Beberapa sikap yang perlu ditanamkan dalam diri kita misalnya toleransi, yaitu sikap menghargai pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, dan kelakuan yang berbeda dengan pendirian sendiri. Sikap toleransi ini sangat penting, karena kita harus menghormati dan menghargai pendapat orang lain, agar tidak menimbulkan perbedaan. Sikap selanjutnya yaitu empati sosial, yaitu keadaan mental seseorang yang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadaan dan pikiran yang sama dengan orang/kelompok lain, misalnya ketika ada bangsa lain sedang terkena musibah, kita meskipun notabene bukan keluarga dan bukan bagian dari bangsa itu, ikut merasakan penderitaan mereka dan membantu meringankan beban dengan memberi bantuan. Sikap ini sangat diperlukan, karena meskipun kita berbeda satu sama lain tetapi tetap dapat membentuk keselarasan.
Selain sikap yang perlu ditanamkan, kita juga harus mengetahui sikap-sikap yang harus dihindari, agar perbedaan tidak menghambat keselarasan, yaitu sikap terlalu menganggap pendapat kita yang paling benar, menganggap budaya dan suku kita yang paling benar, namun menganggap pendapat, suku dan budaya orang lain rendah. Karena sikap inilah perbedaan akan muncul sehingga keselarasan akan sulit untuk tercapai.
Salah satu contoh real penerapan Harmony in Diversity dapat dirasakan ketika calon mahasiswa-mahasiswi di Universitas Brawijaya menjalani kegiatan ospek. Terlihat mahasiswa yang datang dari seluruh penjuru Indonesia dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka yang mempunyai perbedaan sifat, pribadi, and jurusan serta belum mengetahui apa dan siapa dapat bergabung satu padu untuk menyelesaikan tugas yang sama. Terlihat jelas bahwa banyaknya perbedaan tidak menghalangi semangat mereka, karena mereka mengetahui sikap mana yang harus diperhatikan dan sikap mana yang perlu dihindari sehingga tercapailah harmony (keselarasan) itu sendiri.
Jadi dapat disimpulkan bahwa perbedaan tidak akan menjadikan suatu keselarasan apabila tidak diimbangi dengan sikap individu yang baik. Perbedaan akan terjaga keseimbangannya apabila dalam suatu perbedaan dijadikan suatu alat untuk memperoleh suatu kebersamaan.